Rabu, 06 November 2013

Peranan Rasio dan Iman



Kata kunci : Peranan Rasio umat Kristen akan dipikirkan, diperhatikan dengan berdasarkan pada Alkitab yang adalah Firman Tuhan sekaligus Pedoman Iman 
Peranan Rasio dalam sejarah kekristenan, terdahulu telah dijelaskan melalui berbagai agama, termasuk kristen muncul setelah berbagai kepercayaan ada. Kepercayaan itu di dasarkan pada cerita-cerita yang diterima sebagian benar adanya.Cerita-cerita itu berupa dongeng dan takhyul yang telah merakyat. Bertens mengemukakan bahwa contoh sederhana : bagi masyarakat Yunani, pelangi adalah Dewi yang bertugas sebagai pesuruh dewa-dewa lain.[1]Mitos itu memperhatikan sikap hidup yang selalu taat pada cerita-cerita itu, sebagian orang mulai memikirkan kesalehan cerita-cerita itu namun hal ini tidak dijelaskan secara lengkap disini penjelasan lebih mengarah pada pemikiran yang nantinya berpengaruh pada kekristenan.
Berlanjut hingga abad XX, dikalangan para Teolog pun terdapat perbedaan pendapat tentang peranan Rasio dalam kehidupan Iman.Perkembangan pemikiran ini Hadiwijono menyebutnya teologi Reformotoris abad XX. [2]Kendati pun demikian kekristenan tetap eksis namun didalamnya terdapat Dualisme pandangan hidup. Karena itu, iman hanya diorientasikan pada kehidupan agamawi atau religius sedangkan rasio hanya ditunjukkan kepada bidang akademik dengan kegiatan ilmiahnya dalam berbagai disiplin ilmu.[3]Hal ini muncul karena adanya pemisahan iman dan rasio sehingga peranan iman dan rasio tidak harmonis.Dualisme pandangan ini adalah:
Pertama, iman di tempatkan paling utama sedangkan rasio di kesampingkan bahkan seakan diabaikan. Pada bagian ini, yang dipentingkan adalah hal-hal rohani atau kecenderungan penggunaan tafsiran alegoris. Kalimat-kalimat yang sering dipakai adalah asal percaya saja, sebagaimana ungkapan Dun Scotus yang dikutip Berkhof dan Enklaar dalam sejarah gereja, ‘biarlah manusia menerima dan percaya apa yang diajarkan kepadanya oleh gereja; karena gerejalah yang dikarunia Tuhan hikmat dari atas,[4]dan kamu jangan kuatir, sebagian orang mengutip Markus 13:11: ‘Janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu saat itu juga,  sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh Kudus sebagai landasan untuk mengutamakan Iman dan Rasio.
Kedua, rasio ditempatkan lebih tinggi dari iman. Hal ini memberi pengaruh yang cukup besar bagi kekristenan. Bruce Milne mengatakan kalau akal diberi otonomi sejauh ini, maka cepat atau lambat akal akan berkembang melampaui batas-batasnya dan merebut tempat iman.[5]Karena itu, rasio dipakai sebagai standar untuk menilai segala aspek yang berhubungan dengan kehidupan ini. Pengandalan rasio, ini diterapkan pula dalam menelaah Alkitab. Lukito memaparkan pernyataan Aguinas: rasio manusia (yang tidak mendapat iluminasi apapun) memiliki otonomi untuk menjadi penilai wahyu secara mutlak jika pendekatan yang digunakan demikian, maka orang akan meragukan, mempertanyakan bahkan tidak mengaku keutuhan Alkitab.[6]
Tetapi melalui Sejarah Kekristenan menginformasikan bahwaperanan Rasio dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu rasio yang taat dan tidak taat kepada firman Allah. Rasio yang taat dapat di bedakan atas dua kelompok yaitu yang mengabaikan rasio dan yang mengusahakan rasio.Sedangkan rasio yang tidak taat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian yang masih mengakui adanyaTuhan tetapi menolak Alkitab dan menyangkali adanya Tuhan.
Jadi melalui peranan rasio didalam kehidupan beriman hanya sebagai instrumen untuk memuliakan Tuhan. Karena itu hendaknya pola berpikir yang baik dijadikan suatu pendekatan oleh umat Kristen dalam setiap aktivitas zaman yang Transformasi ini.Dengan demikian,berita kesukaan tetap di beritakan dalam kesukaran sekalipun  II Timotius 4:2.
"Mohon Dukungan Doanya"



[1]KeesBertens, SejarahFilsafatYunani (Yogyakarta :Kanisius, 1989), 7.
[2]HarunHadiwijono, TeologiReformotoris Abad XX  (Jakarta: BPK, 1999).
[3]Louis  Leahy, Esai, Filsafatuntukmasakini(Jakarta: PusakaUtamaGrafiti, 1994), 90.
[4]BerkhofdanEnklaar, SejarahGereja (Jakarta: BPK , 1995), 107.
[5] Bruce Milne, MengenaiKebenaran (Jakarta: BPK, 1996) 82.
[6] D.L. Lukito, PengantarTeologi Kristen I (Bandung: Kalamhidup, 1996) 64.