Kata
kunci : Peranan Rasio umat Kristen akan
dipikirkan, diperhatikan dengan berdasarkan pada Alkitab yang adalah Firman
Tuhan sekaligus Pedoman Iman
Peranan Rasio dalam sejarah kekristenan,
terdahulu telah dijelaskan melalui berbagai agama,
termasuk kristen muncul setelah berbagai kepercayaan ada. Kepercayaan itu di
dasarkan pada cerita-cerita yang diterima sebagian benar adanya.Cerita-cerita itu berupa dongeng dan takhyul
yang telah merakyat. Bertens mengemukakan bahwa contoh sederhana
: bagi masyarakat Yunani, pelangi adalah Dewi yang bertugas sebagai pesuruh dewa-dewa
lain.[1]Mitos itu memperhatikan sikap hidup
yang selalu taat pada cerita-cerita itu, sebagian orang mulai memikirkan kesalehan cerita-cerita itu namun hal ini tidak dijelaskan secara lengkap disini penjelasan lebih mengarah pada pemikiran
yang nantinya berpengaruh pada kekristenan.
Berlanjut hingga abad
XX, dikalangan para Teolog pun
terdapat perbedaan pendapat tentang peranan Rasio dalam kehidupan Iman.Perkembangan pemikiran ini Hadiwijono menyebutnya teologi Reformotoris abad
XX. [2]Kendati
pun demikian kekristenan tetap eksis namun didalamnya terdapat Dualisme pandangan hidup.
Karena itu,
iman hanya diorientasikan pada kehidupan agamawi atau religius sedangkan rasio hanya ditunjukkan kepada bidang akademik dengan kegiatan ilmiahnya dalam berbagai disiplin ilmu.[3]Hal
ini muncul karena adanya pemisahan iman dan rasio sehingga peranan iman dan rasio tidak harmonis.Dualisme pandangan ini adalah:
Pertama, iman di tempatkan paling utama sedangkan rasio di kesampingkan bahkan seakan diabaikan. Pada bagian ini,
yang
dipentingkan adalah hal-hal rohani atau kecenderungan penggunaan tafsiran alegoris. Kalimat-kalimat
yang sering dipakai adalah asal percaya saja, sebagaimana ungkapan Dun Scotus yang
dikutip Berkhof dan Enklaar dalam sejarah gereja, ‘biarlah manusia menerima dan percaya apa
yang diajarkan kepadanya oleh gereja; karena gerejalah yang
dikarunia Tuhan hikmat dari atas,[4]dan kamu jangan kuatir,
sebagian orang mengutip Markus 13:11: ‘Janganlah kamu kuatir akan apa yang
harus kamu katakan tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh
Kudus sebagai landasan untuk mengutamakan Iman dan Rasio.
Kedua,
rasio ditempatkan lebih tinggi dari iman. Hal ini memberi pengaruh yang
cukup besar bagi kekristenan. Bruce Milne mengatakan kalau akal diberi otonomi sejauh ini,
maka cepat atau lambat akal akan berkembang melampaui batas-batasnya dan merebut tempat iman.[5]Karena itu,
rasio dipakai sebagai standar untuk menilai segala aspek yang
berhubungan dengan kehidupan ini. Pengandalan rasio, ini diterapkan pula
dalam menelaah Alkitab. Lukito memaparkan pernyataan Aguinas: rasio manusia (yang
tidak mendapat iluminasi apapun)
memiliki otonomi untuk menjadi penilai wahyu secara mutlak jika pendekatan yang
digunakan demikian, maka orang akan meragukan,
mempertanyakan bahkan tidak mengaku keutuhan Alkitab.[6]
Tetapi melalui Sejarah Kekristenan menginformasikan bahwaperanan Rasio dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu rasio
yang taat dan tidak taat kepada firman Allah. Rasio yang taat dapat di
bedakan atas dua kelompok yaitu yang mengabaikan rasio dan yang
mengusahakan rasio.Sedangkan rasio yang tidak taat di
kelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian yang
masih mengakui adanyaTuhan tetapi menolak Alkitab dan menyangkali adanya Tuhan.
Jadi melalui peranan rasio didalam kehidupan beriman
hanya sebagai instrumen untuk memuliakan Tuhan.
Karena itu hendaknya pola berpikir yang baik dijadikan suatu pendekatan oleh umat
Kristen dalam setiap aktivitas zaman yang Transformasi ini.Dengan demikian,berita kesukaan tetap
di beritakan dalam kesukaran sekalipun II
Timotius 4:2.
"Mohon Dukungan Doanya"
[1]KeesBertens, SejarahFilsafatYunani
(Yogyakarta :Kanisius, 1989), 7.
[2]HarunHadiwijono, TeologiReformotoris Abad XX (Jakarta: BPK, 1999).
[3]Louis Leahy, Esai, Filsafatuntukmasakini(Jakarta: PusakaUtamaGrafiti, 1994), 90.
[4]BerkhofdanEnklaar, SejarahGereja (Jakarta: BPK , 1995), 107.
[5] Bruce Milne, MengenaiKebenaran (Jakarta: BPK, 1996)
82.
[6] D.L. Lukito, PengantarTeologi Kristen I (Bandung:
Kalamhidup, 1996) 64.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar